Resensi ini dimuat di Radar Sampit, 27 Des 2015
Judul Buku : Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia 3: Walansendow
Penulis : Y.B. Suparlan
Penerbit : Kanisius
Tahun : I, 2015.
Tebal : 186 halaman.
ISBN : 978-979-21-4273-0
Penulis : Y.B. Suparlan
Penerbit : Kanisius
Tahun : I, 2015.
Tebal : 186 halaman.
ISBN : 978-979-21-4273-0
Indonesia adalah negeri kaya akan cerita-cerita rakyatnya. Hampir setiap daerah mempunyai cerita rakyat, baik berupa cerita asal usul, mitos dan legenda. Namun sayang, di zaman kemajuan teknologi sekarang ini, cerita-cerita rakyat Indonesia mulai terlupakan. Anak-anak lebih hafal dan tahu cerita-cerita komik manga ataupun dongeng-dongeng Disney yang sering mereka tonton.
Cerita rakyat adalah bentuk penuturan yang pada dasarnya tersebar secara lisan dan di wariskan turun-temurun di kalangan masyarakat atau penduduk secara tradisional. Cerita rakyat meliputi mitos legenda, fabel, dan lain-lain. Sedangkan yang di maksud cerita rakyat Indonesia (cerindo) adalah cerita rakyat yang di nilai masih berpengaruh dalam kehidupan masyarakat sekitarnya, dan bermanfaat bagi pembinaan kepribadian bangsa. (halaman iii).
Buku seri Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia ini mengisahkan cerita-cerita daerah dari berbagai propinsi di Indonesia. Cerita-cerita rakyat Indonesia kembali di angkat agar anak-anak generasi sekarang ini mengenal dan mengetahui bahwa ada banyak sekali cerita daerah yang bagus dan menarik. Buku cerita ini juga memberikan wawasan dan menawarkan nilai-nilai yang pantas diteladani oleh anak-anak dalam upaya pembinaan kepribadian bangsa.
Dari Kalimantan Barat, ada cerita tentang Putri Dara Nate. Cerita ini mengisahkan tentang Putri Dara Nate yang tiba-tiba hamil setelah memakan mentimun yang ia temukan larut di sungai. Kerajaan pun gempar, sang raja ayah dari Putri Dara Nate marah, siapa yang sudah berani menghamili anaknya? Seluruh rakyat ketakutan.
Putri Dara Nate menjelaskan tak seorang pun pernah berhubungan dengannya. Sang raja baru percaya setelah ia bermimpi bertemu orang tua yang mengatakan bahwa kehamilan itu adalah kehendak Tuhan. Orang tua itu juga menyampaikan pesan bahwa setelah anak Putri Dara Nate lahir dan bisa berjalan ia di minta mencari anaknya sambil membawa sebatang tebu. Siapa pun lelaki yang bisa mengupas tebu tersebut adalah ayah dari anak Putri Dara Nate.
Tak disangka, ternyata lelaki yang bisa mengupas tebu itu adalah seorang tua renta yang penuh penyakit kulit (koreng). Namun, karena itulah kenyataan yang diberikan Tuhan, anak dan Putri Dara Nate pun menerima lelaki itu sebagai ayahnya. Dalam perjalanan pulang ke kerajaan, lelaki tua itu berendam di air sambil berpegangan pada perahu. Keajaiban pun terjadi, lelaki tua itu berubah menjadi pemuda gagah dan tampan. Rupanya, selama ia berendam, ikan-ikan saluang memakan koreng-koreng di tubuhnya. Putrid Dara Nate bersama anak dan suaminya akhirnya hidup bahagia. (halaman 53-72).
Selain cerita dari Kalimantan Barat tersebut, masih ada sebelas cerita lainnya: Datu Untal (NTB), Patih Senggilur (Sumsel), Ni Timun Mas dan I Lantang Hidung (Bali), Sutan Tanamoi dan Sutan Sangguling (Jambi), Ncuhi Mawo (NTB), Asal Mula Nama Gunung Bromo (Jatim), Terjadinya Air Ewu (Maluku), Si Melingkar (Kaltim), Walansendow (Sulut), Putri Nglirip (Jatim), Anak Kerbau yang Durhaka (Aceh).
Dengan membaca kumpulan cerita ini, ada nilai-nilai yang dapat di ambil pesan moral dan hikmah ceritanya, antara lain: cinta kasih, kesetiaan, kerendahan hati, tolong-menolong, kebijaksanaan, kesabaran, keuletan, kebenaran, dan kepahlawanan. Juga, muatan nilai dalam cerindo ini di harapkan dapat menumbuhkan sikap hidup yang sesuai dengan nilai-nilai yang di harapkan dimiliki oleh anak-anak. Dengan membumikan cerita-cerita nusantara, maka khasanah kekayaan cerita-cerita daerah akan tetap terjaga dan memberikan dampak positif bagi generasi-genarasi mendatang. Selamat membaca.
Diresensi oleh: Muhammad Saleh*
*Alumnus STAI Barabai, Kalimantan Selatan.

0 komentar:
Post a Comment