Jumat, 27 Maret 2015

Cara Gampang Menyimpan Epaper Issue Ke Format Jpg




                Beberapa hari yang lalu, ada seorang teman, sebut saja namanya Kumbang (samaran) hehe....yang merasa, jangan protes.  Dia kasih tahu cara menyimpan file issue ke dalam bentuk jpg alias foto. Caranya cukup panjang dan agak ribet, namun akhirnya saya berhasil juga. Fiuuh...lega.
                Nah, pas saya tanya teman, apakah sudah berhasil juga menyimpan file issue ke jpg, ternyata dia bingung dengan langkah-langkahnya karena harus download ini itu dulu. Ora ngerti...dan jadinya bingung sendiri.
                Lalu saya bersemedi..(alah..gayane...) dan dapat ilham...bagaimana “jalan pintas” untuk mempermudah dan gak pake ribet. Cara ini menurut saya sih sudah gampang. Karena tak perlu aplikasi khusus. GAMPANG. CEPAT. DAM MURAH.!
                Nah...dari pada banyak kata pengantarnya, langsung cekidot saya guys!

1.       Buka dulu epaper issuenya. Setelah terbuka halaman satu, kita stop proses loadingnya...(Yang ini pasti bisa semua ya..)





2.       Setelah itu klik pada bagian atas (pengguna Mozila Firefox) Tab Tampilan, Kode sumber halaman atau cara ringkasnya tekan Ctrl + U.
Tampilan screen nya seperti ini.


Cari susunan ini :  
 
http://image.issuu.com/150326141548-0bd70b7e5643cdcaa0a6129bfdb42958/
jpg/page_1.jpg
 
Bila sudah ketemu tinggal copy aja dan paste ke tab baru lalu tekan enter alias kunjungi. 
Maka tampilannya seperti ini




 



Tinggal klik Kanan dan Save.
 Oh...ya, jika ingin menyimpan halaman yang lain,
 tinggal ganti aja pada bagian pagenya.
 http://image.issuu.com/150326141548-0bd70b7e5643cdcaa0a6129bfdb42958/
jpg/page_1.jpg.
 ganti angkanya. Mau page  2..3..4...dan seterusnya. 
 
h...gimana? gampangkan. Kalau nggak dapat juga. Kebangetstan...hehe...
jadi kita gak perlu lagi nunggu seluruh halaman issue terbuka semua,
 lalu tekan tombol PrtSc SysRq dan di paste di halaman kerja Photoshop atau Ms. Word.
Oke Guys! Selamat Mencoba dan semoga bermanfaat. (Khususnya para Resensor. Hehe...)


               
            
»» READMORE...

Sabtu, 07 Maret 2015

TENTANG SEBUAH KESETIAAN (Lomba Resensi Milad FLP Ke-18)






Judul Buku     : Bersetia
Penulis            : Benny Arnas
Penerbit          : Qanita, Bandung
Tahun              : I, 2014.
Tebal               : 604  halaman.
ISBN               : 978-602-1637-25-8

            Pada halaman Sekacip Pinang di bagian akhir buku ini, Benny Arnas menganalogikan bahwa novel yang ia tulis ini sebagai “rumah baru” dalam perjalanan karirnya sebagai seorang penulis, sedangkan menulis cerpen ia sebut sebagai “rumah lama”. Benny Arnas memang dikenal dari cerpen-cerpennya yang bertemakan lokalitas kental daerah kelahirannya, Lubuklinggau. Ia mengatakan, tak akan meninggalkan “rumah lama” nya demi “rumah baru” yang baru di jejaknya.
            Novel perdananya yang ia tulis ini bisa di bilang bukanlah tema baru, atau, kalau boleh di bilang temanya sudah klise. Novel yang di garapnya dengan semangat pasang surut ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Embun alias Ratna- gadis lugu dan sederhana serta penyuka teh. Ia berjodoh dengan seorang fotografer ganteng bernama Brins van Hoye- lelaki yang suka bergaul dan ramah terhadap kliennya.
         Seperti kebanyakan kisah cinta pengantin baru pada umumnya, tentu saja kebahagiaan mewarnai masa-masa awal pernikahan mereka. Brins dan Embun selalu menyempatkan untuk minum teh bersama setiap sore untuk menambah keakraban dan keromantisan kehidupan percintaan mereka. (hal. 196). Masa perkenalan yang begitu singkat membuat Embun dan Brins belum hafal dan memahami betul karakter masing-masing pasangannya.
            Seiring berjalan waktu, konflik rumah tangga pun mulai muncul kepermukaan. Berawal dari rasa cemburu Embun yang mengira Brins sudah mulai mendekati gadis lain, lalu itu menyulut pertengkaran dengan Brins. (hal. 206). Kian hari konflik ini mulai menampakkan intensitas yang semakin bertambah seiring mulai lunturnya sebuah kepercayaan dari Embun.
            Puncaknya Embun memergoki perilaku bejat Brins ketika Embun berkunjung ke kantor suaminya itu. Dan masalah itu membuat Embun memutuskan untuk kembali ke kampung kelahirannya, Lubuklinggau. Lalu bagaimana cara Brins merayu Embun agar bisa percaya lagi kepadanya seperti awal pernikahan? Dan bagaimana pula cara Embun dalam meredam kesedihannya setelah kesetiaannya dibuat hancur oleh penghiatan lelaki yang amat di cintainya itu? Di sinilah pandainya seorang Benny Arnas mengaduk-aduk perasaan pembaca. Pembaca seolah-olah dapat menyatu dengan para tokoh-tokohnya. Dengan alur maju yang disajikan penulis seolah cerita ini benar-benar pernah terjadi dalam kehidupan nyata.
            Sayangnya, novel setebal 604 halaman ini bisa di bilang berjalan sangat lambat dan bertele-tele. Bagian pertama novel ini saja sudah menghabiskan sekitar 160 halaman awal tanpa ada konflik yang cukup berarti, sehingga pembaca akan cepat merasa bosan untuk terus melanjutkannya.
            Untungnya, novel ini diselamatkan oleh nama penulisnya yang sudah cukup di kenal di jagat sastra nusantara. Dengan kepiawaian Benny Arnas merangkai kalimat-kalimat dengan diksi-diksi indah yang menjadi ciri khas disetiap tulisannya, pembaca masih berharap ada twist yang di temukan pada akhir cerita ini.
            Terlepas dari kekurangan cerita yang terasa membosankan karena berjalan sangat lambat, Benny Arnas mampu menyampaikan pesan tersirat dalam novel ini untuk di renungkan dalam hal kehidupan berumah tangga.
            Cinta dan cemburu sudah menjadi bagian dari kehidupan dalam berumah tangga. Akan tetapi, hanya sebagian saja yang mampu menyelesaikannya dengan arif dan bijaksana tanpa harus mengambil jalan perpisahan.
            Benny Arnas dengan kelihaiannya bermain kata lewat novel ini menggambarkan makna dari sebuah kesetiaan. Kesetiaan berawal dari rasa saling percaya, jujur, dan sehati satu sama lain, tanpa itu terasa akan sulit untuk menjaganya. Sebab, bila sudah terlanjur retak, cinta yang kembali tak akan bisa seperti semula.
Setia adalah genggaman sepasang tangan dengan perangai yang berseberangan. Yang kanan menuliskan perjanjian. Yang kiri menjelma cemburu. Lalu apa kabat cinta, bila tangan kiri membakar tangan kanan? (back cover)
            Novel karya Tokoh Muda Sastra Indonesia 2013 pilihan Jawa Pos ini memang patut kita apresiasi untuk menambah kekayaan sastra di Indonesia. Ciri khasnya dalam menghadirkan warna lokalitas pada setiap tulisannya patut kita acungi jempol, Benny Arnas tetap konsisten dengan hal ini walaupun pindah ke “rumah baru”.  Jika anda kini berada dalam kubangan kesedihan karena telah dikhianati, maka novel ini menjadi bacaan yang pas untuk memahami tentang arti sebuah kesetiaan.
           

Diresensi oleh: Muhammad Saleh*

»» READMORE...